Minggu, 18 Maret 2012

Menunggu .. ep. 2

Umi berapa tahun nanti di sana?
ku ulang lagi tanyaku, Umi hanya tersenyum sangat sendu padaku. Ia tak menjawabnya dengan kata. Yang ku tahu hanya aku akan berangkat sekolah tanpa berteriak-teriak lagi setelah hari ini. Tanpa mengucap salam sembari mengawali kayuh sepeda mini ku mengukir jalanan menuju sekolahku.

Aku telah memikirkan tentang pertanyaan ini jauh sebelum hari ini mengukir kisahnya. Sejak Umi mengawali langkahnya untuk hari ini, beberapa bulan lalu. Membicarakannya dengan bapak yang hanya memenuhi seperempat kebutuhan kami setiap hari.

Malam itu, di ruang sholat keluarga kami. Umi yang masih dalam balutan mukenanya, menghadap takdhim ke arah bapak. Aku menjumpainya sejenak setelah aku turun dari ruangan itu. Dan entah, aku benar benar ingin menyimak percakapan yang belum saja dimulai itu. Aku bergegas keluar rumah, mencari posisi paling dekat dengan kamar Umi dan bapakku, yang setiap jam jam tertentu lima kali dalam sehari selalu menjadi tempat paling damai bagiku. Berjamaah bersama dan bapak akan melanjutkan menyimak bacaan mengajiku. Mengatur langkah agar langkah kakiku tak mengusik ketenangan daun daun kering yang berserakan di samping rumahku. Menyenderkan tubuhku perlahan pada dinding kayu rumah warisan nenekku.

Aku hanya menyimaknya, ya aku menyimak seluruh pebincangan Umi dan bapakku malam itu.



Sore yang sendu sesendu senyum Umi padaku Read More..

Minggu, 19 Februari 2012

Menunggu ..

Kau tahu kawan, tak ada kegiatan yang lebih membosankan dan menyebalkan selain menunggu. Di sana aku harus beradu dengan sekeping receh kemungkinan. Ya atau tidak terjadi sama sekali. Ibarat koin receh, dua sisinya begitu mengguncang batin dan jiwa siapa saja ketika seayun saja sebuah tangan melemparkannya membuat jejak tegak yang kasat mata. Dan ketika terjatuh kembali ke tanah dalam daya tarik gravitasinya, di sanalah semua penantian kita berakhir, meski terkadang sebuah impian harus dipaksa lenyap.

Tak ada masalah dalam kegiatan yang telah biasa ku jalani beberapa bulan ini sebenarnya. Tak ada jadwal yang berubah dari biasanya. Pagi dengan rutinitasku di kampus dan beberapa bangku sekolah, siang dengan waktu waktu lengang yang nyaris tak pernah terasa senggang, sore dengan kebersamaan berbagi cerita dan pengalaman, dan malam hilang dalam pejam yang padam. Hanya saja sejak saat itu, saat ibu mulai melepaskan salam takdhim telapak tanganku satu tahun lalu. Aku mulai dipaksa perlahan bagaimana mempermainkan sebuah rasa. Memainkan hati sendiri, merasakan pedihnya dan menikmati sukanya.

....

Umi berapa tahun nanti di sana? Read More..

Kamis, 16 Februari 2012

Ustadz

Serumah dengan seorang ustadz ternyata mulai membawa perubahan dalam hidupku. Sama denganku, ia juga selalu mempunyai waktu kosong di tiap pagi, setelah sedikit aktivitas-aktivitas aneh untuk mengawali pagi. Kami hidup di kamar masing-masing dalam rumah berisi lima kamar ini. Jadilah aktivitas pagi kecil kami adalah membersihkan seluruh sudut rumah besar ini. Ustadz itu juga yang mempelopori kegiatan aneh ini. Patut ku sematkan perisai di songkok hitamnya yang bersahaja itu, karena telah berhasil membangunkan aku dan tiga temanku  yang lain dengan aktivitas aneh aneh ini. Selalu tertawa yang spontan merespon putaran memori lalu yang terkadang tiba tiba datang di sela lamunanku. Bagaimana tidak? Hidupku hanya seperti ini, kawan. tak lebih dari transaksi udara dengan siapapun dan apapun di sekitarku sebagai nasabahnya. Melewati waktu kosong, mengisinya, dan menemukan waktu kosong kembali. Lagi lagi hanya kosong yang bisa ku jamah dan yang bisa ku temukan. Dan yang lebih membuatku kosong adalah ketika aku mengisi kekosongan kekosongan itu dan aku masih saja merasa kosong.
Tapi tidak, sejak kedatangan ustadz muda itu di tengah kami.
------
"Lang, musholla umum di sini paling deket sebelah mana?"
Aku yang sedang serius dengan kesibukanku dalam sebuah kekosongan sedikit tersentak dengan pertanyaan orang baru ini. Terpaksa harus ku hentikan sejenak tanganku dari rangkaian maket bangunan rancanganku untuk menyambut pertanyaannya. Sungguh, dalam hati, aku pun tak tahu harus menjawab bagaimana. Bukan karena aku tak tahu dimana letak bangunan yang biasa disebut musholla yang ada di komplek sini, tapi mendengar kata umum, benar benar membuatku kesulitan menjawabnya. Read More..

Kamis, 05 Januari 2012

Mesin Jahit

Sudah lebih dari jumlah umurku sekarang, mesin jahit tua itu menemani ibuku. Menemani hari hari ibu yang tak pernah sepi oleh nada yang tercipta dari sentuhan telapak kakinya. Suaranya seringkali membuat tidur malamku dalam marah tertahan. Bukan ibu, hanya sampai kapan aku hanya bisa seperti ini. Hanya mewarnai malamku dengan marah yang terungkap lewat dengkur yang dibuat buat agar ibuku segera mengakhiri harinya, dan sejenak membiarkan mesin jahit itu merindu telapak kakinya. Dan kembali menyentuhku, memeluk malamku yang  telah seharian menahan cemburu pada lempeng penjejak mesin jahit itu.

Tidak ada siapapun di rumah ini selain mesin jahit tua itu, ibuku, dan aku sendiri dengan segala keterbatasanku. Seringkali ingin ku bakar mesin jahit butut legam itu, bahkan warnanya tak bisa ku jelaskan lagi selain dingin yang sangat setiap aku menyentuh salah satu empat kakinya. Tapi tanpanya aku tak kan bisa bertahan merasakan kehidupan meski hanya dalam sekotak kamar yang selalu ku tempati setiap waktu, setiap detik dalam nafasku.

Aku tak seperti teman temanku, bekejar-kejaran bermain bersama, meloncat girang sambil lancar melafalkan nada-nada lagu, teman-temanku yang hanya bisa ku kenal dari kejauhan lewat jendela kamarku yang bisa ku buka tutup sesuka hati. Aku tak peduli dengan ejekan teman temanku yang terkadang membuatku meneteskan beberapa bulir dari mataku yang tak bening ini.
Kamu cantik, begitu kata ibu padaku setiap kali menimangku sebelum membawaku menemaninya mengantarkan pesanan jahitan. Mungkin milik ibu ibu yang kadang menemani ibuku bercengkerama hingga ibuku menyerahkan selembar kertas kecil yang bertuliskan angka angka, dan saat itu selalu ku lihat ibuku mengakhiri percakapannya dengan anggukan takdhim.

Aku hanya bisa tersenyum di balik bibir sumbingku yang selamanya akan sumbing seperti ini, melihat mesin jahit kesayangan ibu. Dia tak pernah mengeluh sampai membuat ibuku akan kesulitan menserviskannya ke tukang mesin. Ingin ku gantikan ibuku menggerakkan lempeng hitam mesin jahit itu.
Pernah sekali aku melakukannya, ku seret paksa tubuhku yang tak lengkap ini. Sungguh tampak sangat ganjil Kawan, dengan tubuh yang tak lebih besar dari guling besar milik ibu dan sepasang kaki dengan ukuran ranting pohon beringin tengah balai desa kami, ku seret pelan bertopang pada tanganku yang tak bisa lurus. Sungguh sangat senang diriku saat akhirnya aku bisa menyentuh lempeng hitam itu, bagian paling vital mesin jahit pahlawan ibuku. Ku gerakkan pelan, sangat pelan sambil ku rasakan dinginnya lewat telapak tanganku yang selama ini hanya mengenal kehangatan ibu. Meski tubuhku mulai bergetar karena merasa kedinginan, tapi tak pernah ku lunturkan semangatku untuk agar malam itu aku bisa menggantikan sepasang kaki ibu.
Ku beranikan menekannya lebih kencang hingga menimbulkan suaranya yang biasa ku dengar setiap malam.
juk ujuk ujuk ujuk,
Aku tertawa riang mendengarnya, sungguh berbeda rasanya ketika aku hanya mendengarnya tanpa menyentuhnya seperti ini. Dan semakin semangat mengerakkanya lebih cepat dan lebih cepat.
Namun, mesin itu tiba tiba berhenti, tak bisa ku gerakkan lagi di saat aku berada di puncak semangatku. Ku tekan paksa dan terus ku paksa, tapi tetap tak bisa.




Read More..

Minggu, 04 Desember 2011

Takut,

Tak pernah sekalipun, takut itu diajarkan pada kami. Dan untuk pertama kali Laysa berkali meleleh dalam parau harapan. Ia tak merangkainya sendiri, tapi sepenuhnya ialah sendiri. Untuk pertama kalinya ia meleleh terlalu dan teramat takut paraunya hancur menjadi bisu yang serak. Ia sepenuhnya sendiri,
ada dan tiadaku bukanlah apa
namun tanpa adaMu
apalah aku
hanya tak ada
Nyaris usai, fajar bergemuruh pelan. Dalam harap Laysa tak akan ada usai.
Mengalir meninggalkan jejak lembab berharap tak mengering. Meski hanya di hati yang tak bisa dimengerti. Read More..